Nabi Muhammad dalam asuhan ibu susuanya.


Muhammad s.a.w dalam asuhan ibu susuanya.


Selama beberapa hari Nabi Muhammad disusui Tsuwaibah, hamba sahaya milik paman beliau, Abu Lahab. Kemudian sesuai tradisi orang arab, Abdul Muttolib mencari cari wanita dari masyarakat arab badawi untuk menyusui cucunya yang yatim itu; Karena masyarakat badawi hidup di pemukiman yang berudara bersih dan jernih, orang-orangnya berperangai lurus dan jujur, masih tetap dalam keaslian fitrahnya.
Tibalah saat yang di tunggu Abdul muttalib, pada suatu hari tibalah di makkah rombongan wanita dari Bani Sa’ad yang mencari anak susuan dengan harapan mendapat imbalan. Kaum Bani Sa’ad terkenal baik budi bahsa dan tutur katanya.
Ketika mereka tiba di rumah Siti Aminah, ia menawarkan puteranya utk di susui, tetapi mereka merasa keberatan karena anak itu adalah yatim. Salah satu dari mereka bernama Halimah, sudahntahun bahwa anak itu adalah anak yatim, karenanya ia pun menolak. Akan tetapi karena ia tidak mendapatkan anak susuan lain maka ia menerima cucu Abdul Muttalib, kemudian membawanya pulang ke pemukiman nya.
Halimah menceritan pengalamanya tsb, Ia mengatakan;
“Aku pergi, bersama rombongan wanita Bani Sa’ad untuk mencari anak susuan di makkah, aku membawa keleai dan unta betina yg kuharap dapat di perah susunya, tapi unta itu tidak mengeluarkan susu setetes pun.

“Setiba di makkah,masing-masing dari kami menerima tawaran dari Siti Aminah utk menyusui putranya, Muhammad S.A.W, tapi tak seorg pun dari kami yang mau menerima tawaran itu setelah mengetahui bahwa yang ditawarkannya itu anak yatim. Kami berfikir apalah dapat di berikan sbg imbalan oleh ibu 7 datuknya itu. Akhirnya semua wanita teman-temanku berhasil mendapatkan anak utk disusuinya, hanya aku sendiri yang nihil.

“Ketika hendak pulang ku katakan pada Suamiku ; ‘Demi ALLAH, sungguh aku tidak akan pulang sebelum mendapat anak susuan. Aku akan mendatangi anak yatim itu!’, Suamiku menjawab : ‘Tidak ada jeleknya kau lakukan hal itu,mudah-mudahan ALLAH memberkahi penghidupan kita dgn keberadaan anak itu.

“Kemudian aku pergi mengambil anak yatim itu, Lalu kubawa pulang. Ketika ku pangku dan kususui, ternyata air susuku keluar demikian deras. Beberapa saat kemudian  suamiku menghampiri unta betinanya dan alangkah herannya ia melihat teteknya telah membesardan penuh air susu. Ia lalu segera memerahnya hingga beroleh banyak susu utk kami minum bersama.

“Keesokan harinya suamiku berkata : “Hai Halimah, sungguh kau telah mendapat anak susuan yg mendatangkan keberkahan! ‘aku menyahut; ‘Demi ALLAH itulah yg kuharapkan!’

“Kemudian Kami pulang bersama rombongan dengan menunggang keledai yang kurus kering. Namun , Masyaallah, ternyata keledaiku dapt berjalan begitu cepat hingga mendahului keledai teman- temanku. Merkea berteriak “Tunggu sebentar”, Setelah dekat mereka bertanya : ‘Apakah keledai yang kau tunggangi itu keledai yg kau bawa ke makkah ?’Aku menjawab :’ Ya, Demi  ALLAH keledai yg kubawa ya keledai ini’. Mereka menyahut: ‘Hai Halimah, pasti ada hal luar biasa pd keledaimu itu’.

“Tidak adda daerah pemukiman yg kegersanganya melebihi kegersangan daerahku. Ketika ku tinggal ke makkah , semua kambingku dalam keadaan kurus kering, tapi seltelah aku membawa pulang anak penuh berkah itu, kulihat semua kambingku menjadi gemuk dan teteknya penuh susu. Padahal kambing-kambing org lain tidak seekorpun yg dapat di perah susunya krn kurus kelaparan.

“Selam 2 thn Muhammad S.A.W berada di tengah keluargaku dan selama itu kami mendapat keberkahan yg belimpah. Pertumbuhan badanya sangat pesat hingga melebihi anak-anak lain sebayanya. Dalam 2 thn ia tampak tegap dan kuat.. Ia kemudian ku bawa ke makkah hendak ku serahkan pd ibunya, sekalipun aku sendiri  merasa berat utk berpisah denganya dan ingin sekali mempertahankanya tetap tinggal di tengah keluargaku.

“Dengan berbagi cara aku menghimbau ibunya supaya rela membiarkan putranya tetap berada di asuhhanku. Berulang ulang aku menghimbau dgn berbagi alasan agar ia meluluskan keinginanku. Betapa girang aku, ketika ia ikhlas membiarkan putranya utk tetapku asuh. Muhammad S.A.W lalu ku ajak pulang kembali ketempat pemukimanku.

“Beberapa bulan kemudian, pada saat ia sedg mengembala kambing, tiba-tiba datang saudaranya(anak halimah yg sebaya  dgn beliau) lari pulang sambil berteriak-teriak. Ia memberitahu bahwa saudaranya(Muhammad) di ajak oleh dua org lelaki berpakaian serba putih, kemudian ia di baringkan lalu di bedah perutnya. . . Aku bersam suamiku segera menuju ke tmpt tsb. Disana kami melihat Muhammad berdiri tampak pucat pasi, Ia kami peluk dan kami tanyakan apa yg bru saja terjadi. Ia menjawab : ‘Dua org lelaki itu datang kepadaku, kemudianaku di pegang dan di baringkan lalu perutku di bedah. Aku tidak tahu apa yg dicari ke dua org itu!.

“ Ia segera kami ajak pulang. Setibanya dirumah, suamiku berkata : ‘Aku khawatir Kalau anak ini akan terkena musibah. Karena itu ia lebih baik segera di Kembalikan. Akhirnya Muhammad kami bawa kembali ke makkah, setelah sampai dirumah Siti Aminah aku ceritakan pertiwa tsb. Setelah mendengar cerita itu Siti Aminah bertanya ; ‘apakah anda khawatir kalau anakku di ganggu setan?’ Aku menjawab : ‘Ya benar!’ Ibunya berkata lagi : ‘Tidak demi ALLAH setan tidak akan dapat mengganggunya, Ketahuilah ketika aku mengandung Muhammad, Aku bermimmpi melihat cahaya terang benderang dariku menyinari istana bushra di negeri Syam. Demi ALLAh selama aku hamil sama sekali tidak pernah merasa berat. Tidak ada wanita hamil yang merasa seringan dan semudah seperti yang kurasakan. Ketika ia lahir ia meletakan tapak tanganya di tanah, sedang kepalanya mengada ke langit. Biarlah ia tetap di asuhan anda dan berangkatlah pulang, Semoga ALLAH melindunginya.
Nabi Muhammad tinggal bersama kelurga Halimah selama 5 thn. Setelah itu Nabi Muhammad di asuhibundanya Aminah Binti Wahb. Keberadaan Nabi Muhammad di keluarga Halimah meninggalkan kesan yg mendalam pada jiwanya. Halimah dan keluarganya tetap mendapatkan cinta kasih dan penghormatan dari Nabi.


Demikian riwayat kehidupan Nabi Muhammad ketika di asuh oleh Halimah. Riwayat ini saya ambil dari buku “RIWAYATUL MUSTOFA”. Semoga bermanfaat.