Aminah berziarah ke makam suaminya :

Aminah berziarah ke makam suaminya :

     Tahun berganti tahun, dan kini Nabi Muhammad S.A.W telah berusia 6 thn. Aminah berniat melaksanakan keinginan yg selama ini di tahan-tahan dalam hati rindu. Ia hendak mengajak putranya berangkat ke Yatsrib berziarah ke makam suami tercinta. Betapa riang hati Nabi Muhammad. Ketika ibunya memberitahukan maksud itu padanya. . . . .

     Tibalah musim panas. Aminah berkemas-kemas menyiapkan segala sesuatu yang di perlukan sebagi bekal dalam perjalanan sejauh 400 mil dari makkah. Ia menyadari betapa berat yang hendak di tempuh, tetapi keinginan berziarah ke makam suaminya yang tersimpan selama 6 thn tidak lagi dapat di tahan. Beberapa minggu kemudian tibalah saat kafilah Qureisy hendak berangkat ke Syam. Aminah bersama putranya dan di sertai Ummu Aiman bergabung dgn kafilah yg bergerak ke utara.

     Makin lama kafilah berjalan, makin jauh Aminah meninggalkan kampung halaman, Ayah bunda, dan lingkungan kerabatnya. Selama dalam perjalanan selalu terbayang di pelupuk matanya suami yang sedang berbaring di bawah nisan abadi. Ia bertiga berada di sekedup unta yang mengangkutnya. Malam hari disaat kafilah beristirahat utk tidur, Aminah duduk membelai-belai dan memeluk putera kesayangannya sambil melinangkan air matanya. Alam fikiranya melayang-layang ke tempat tujuan, ingin segera tiba, seolah-olah hendak mempertemukan ‘Abdullah dgn seorg putra yg sejak lahir hingga akhir zaman tidak akan melihat wajah ayahnya. Hancur luluh perasaan Aminah mengenangkan nasib suaminya, nasib dirinya dan nasib putranya. Demikianlah beberapa minggu Aminah dilamun khayal dalam perjalanan.

     Ketika kafilah tiba dekat gunung Uhud, di seberang sana ia melihat dataran kehijau-hijauan. Dari kejauhan tampak daun kurma melambai-lambai laksana lambaian tangan suaminya yg mengharap ia segera tiba di Yatsrib dan menginjakkan kakinya di atas tanah tempat Abdullah merantau ke alam baka.

     Setibanya di Yatsrib kafilah beristiahat sambil menambah perbekalan yg di perlukan dalam perjalanan lebih lanjut. Tidak lama kemudian mulai bergerak lagi meninggalkan Aminah bersama putra dan pembantunya di tengah keluarga bani An-Najjar. Sebulan Aminah tinggal di Yatsrib menghabiskan air mata utk membasahi makam suaminya dan rumah tempat ‘Abdullah sakit hingga ajalnya tiba. Sekalian demikian ia merasah betah tinggal di Yatsrib. Kadang-kadang ia berfikir, seumpama putranya itu bukan keluarga Bani Hasyim di makkah. Dan kota itu bukan tanah tumpah daranya sendiri tentu ia tidak berniat pulang kembali.

Aminah Wafat :
     Betapapun beratnya hati meninggalkan makam suaminya, namun ia harus pulang ke makkah. Pada hari yg telah di tentukan hendak berangkat menuju makkah, Yatsrib di landa angin ribut dan udara amat panas. Debu dan pasir bertaburan dr sahara sekitar kota. Aminah bersama putranya dan pembantunya terpaksa menangguhkan keberangkatannya, menunggu gangguan alam mereda. Selama hari-hari terakhir di Yatsrib, badan Aminah yg kurus kering itu terasa lemah, lunglai, tak bertenaga lagi utk memikul beban derita batin bertahun-tahun lamanya. Putranya yg masih dalam usia kanak-kanak menduga ibunya hanya menderita kelelahan, dan berharap akan segera pulih kembali setelah beristirahat sambil menunggu angin kencang mereda. Lain halnya dengan Aminah yg merasa kehabisan tenaga, Ia seakan-akan merasa tak lama lagi akan segera menyusul suaminya. Kalau bukan Karena hatinya tertambat oleh putra tunggal kesayangannya tentu ia lebih suka bertemu dengan suaminya di alam baka.

     Pada suatu hari saat kehilangan tenaga yg menopang yubuhnya, sambil menyapu air mata yg membanjiri kedua belah pipinya ia memeluk kuat-kuat putranya dan isakan tangis nyaris tak kedengaran lagi. Beberapa saat kemudian tanganya yg kecil itu mengendor dan terlepas dari tubuh putranya. Sinar matanya memudar dan suara yg keluar dari ujung lidahnya tak ubahnya dgn suara berbisik. Beberapa menit kemudian ia tampak diam seolah-olah beristirahat, tetapi tidak lagi mengulang tarikan nafas. Pada detik-detik terakhir hayatnya seakan-akan ia hendak berucap : “Semua yg hidup pasti akan mati kecuali ALLAH maha pengasih! Aku mati, namun kenanganku akan tetap abadi. . . .!”

     Putranya yg masih berusia 6 thn itu berdiiri termangu-mangu di samping ibunya tak bergerak lagi. Dari Ummu Aiman ia mengerti bahwa bundanya telah tiada, pergi menyusul ayah yg telah berangkat mendahuluinya. . . Ia mendekapi tubuh ibunya seraya menagis tak henti-hentinya.

     Suasana berkabung mewarnai kehidupan semua keluarga Bani An-Najjar, di seling suara tangis para wanita yg mengenang nasib pengantin baru yang menjanda bertahun-tahun lamanya, mengasuh putra tunggal yg tak pernah merasakan belain sayng ayahnnya.


     Beberapa saat kemudian jenazah Aminah di bawa kesebuah dusu bernama Abwa utl di semayamkan dalam pembaringan terakhir. Beberapa saat sebelum di makamkan, putranya sempat memeluk dan mencium jenazah ibunya seraya menitipkan tetesan airmata bekal perjalanan kea lam bahagia.



No comments:

Post a Comment